SEARCH :
  • posted by Sep 12th, 2009

    Cak Nun memberikan ceramah dalam acara Muhasabah & Buka Puasa bersama korban lumpur Sidoarjo

    Cak Nun memberikan ceramah dalam acara Muhasabah & Buka Puasa bersama korban lumpur Sidoarjo

    Tiga hari yang lalu keluarga kami mendapat undangan yang tidak terduga dari warga empat desa yang terkena dampak musibah lumpur di Sidoarjo, untuk hadir pada acara buka puasa dan muhasabah bersama Emha Ainun Nadjib atau juga dikenal dengan Cak Nun, seorang budayawan dan pemuka agama yang disegani.

    Terus terang saja, pada awalnya saya segan dan ragu untuk mengutarakan hal ini, karena selain sudah banyak dibahas di berbagai macam media, topik ini sangatlah sensitif dan multi-tafsir. Tapi, didasari semangat untuk berbagi dan bukan untuk menghakimi siapa benar dan salah, saya memberanikan diri untuk menulis di blog ini. Selain itu, ini hanyalah sebuah pandangan dari saya sebagai seorang anggota keluarga Bakrie yang kebetulan dekat dengan topik ini.

    Karena dampaknya yang sangat besar kepada kehidupan masyarakat setempat, musibah semburan lumpur ini selalu akan menjadi topik yang kompleks, bahkan kontroversial. Bencana ini merupakan pukulan yang sangat berat bagi keluarga kami, walau kami mengerti hal itu tidaklah seberapa dibandingkan cobaan yang dialami oleh ribuan warga terdampak.

    Jauh sebelum topik ini menjadi hangat (bahkan panas) dan berkepanjangan, Ibunda Roosniah (nenek saya, istri mendiang Achmad Bakrie) memberi wejangan yang kemudian menjadi panduan bagi keluarga kami untuk melangkah dan menyikapi masalah ini. Kepada kami, Ibunda Roos berpesan bahwa ini adalah bencana yang berada di luar kehendak dan kuasa semua orang. Tak perlu lagi meributkan apakah ini kesalahan manusia atau akibat bencana alam. Yang jelas, warga sudah demikian menderita akibat musibah ini. Oleh karenanya, Ibunda Roos meminta agar pihak keluarga berusaha sebaik mungkin menolong mereka yang terkena dan berhak mendapatkan bantuan. Demikian amanat Ibunda Roos, yang kami jaga baik-baik.

    Di tengah kritik dan cemoohan dari berbagai pihak, yang coba tim kami lakukan cuma satu: memfokuskan perhatian agar dampak bencana ini bisa segera ditanggulangi atau paling tidak diminimalkan. Untuk ini kami selalu berkoordinasi dengan pihak pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk melakukan berbagai upaya penanganan bencana–mulai dari upaya penutupan semburan (yang karena merupakan fenomena alam, semburannya kemungkinan besar masih akan terus terjadi), penanganan permukaan tanah, dan penanganan sosial, di mana kesemuanya memakan biaya yang tak sedikit. Intinya, walau peristiwa ini belum pernah terbayang sebegitu besar dampak sosialnya (dan kami berharap tidak akan terjadi di manapun dan kepada siapa pun lagi), tim kami berkerja keras untuk mencoba membantu meringankan beban para warga.

    Oleh karenanya, walaupun pada 3 April 2009 Mahkamah Agung telah mengeluarkan putusan inkracht (berkekuatan hukum tetap) bahwa semburan lumpur terjadi karena fenomena alam dan bukan akibat kegiatan penambangan perusahaan kami, dan pada 5 Agustus 2009 Kepolisian Daerah Jawa Timur juga telah menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3), kami akan tetap berusaha sekuat tenaga untuk membantu warga korban musibah.

    Sampai saat ini, kami telah mengeluarkan dana sekitar Rp 6,2 triliun untuk membantu upaya penanggulangan musibah serta relokasi warga. Jumlah dana ini merupakan dana yang sangat besar buat siapa pun termasuk keluarga kami (nilainya beberapa kali lipat lebih besar dari APBD Sidoarjo). Apalagi pembayarannya merupakan dana kas yang kami harus keluarkan termasuk di tengah keadaan ekonomi global dan nasional yang sedang mendapat guncangan. Di sini lah amanah Nenek benar benar menjadi panduan bagi kami agar terus memprioritaskan pertolongan warga. Melihat keadaan kelompok usaha kami yang juga terkena imbas negatif cukup besar pada krisis ekonomi 2008-2009, kami benar-benar harus bekerja keras agar dapat terus membantu warga.

    Kunjungan Sidoarjo

    Kahuripan Nirwana Village, perumahan relokasi korban lumpur Sidoarjo

    Warga yang kehilangan rumah tapi tidak punya dokumen sertifikat, juga sudah kami bantu untuk memiliki kembali rumah yang layak di Kahuripan Nirwana Village. Apalagi bagi warga yang memiliki sertifikat sah, mereka telah mendapat penggantian pembayaran. Data yang kami dapat dari tim di lapangan, dari 12.886 berkas, untuk pembayaran 20 persen pembayaran awal sudah sepenuhnya diselesaikan. Untuk 80 persen sisanya, sudah 11.271 (hampir 90 persen) berkas telah selesai diverifikasi. Dari yang sudah diverifikasi itu, sudah dilunasi 4.000 berkas. Sisanya, berdasarkan kesepakatan, akan dibayar bertahap sampai 2012.

    Tak lebih tak kurang, angka-angka ini saya ungkapkan di sini semata untuk mengklarifikasi data yang selama ini agak simpang-siur. Apa yang telah kami lakukan itu, walau sudah mencakup sebagian besar warga, tentunya tidak akan bisa memuaskan semua orang. Apalagi, sudahlah pasti tak ada yang bisa bergembira menghadapi datangnya musibah.

    Tapi saya sangat bersyukur kepada Allah SWT, setelah dua setengah tahun terjadinya musibah yang tak pernah disangka-sangka itu, akhirnya pada Rabu 9 September 2009 lalu keluarga kami dan warga bisa duduk bersama. Hati saya tergetar ketika, bersama sepupu-sepupu saya–Aga, Andra, Harlin dan Taufan–berdiri di depan ribuan warga Sidoarjo yang menghargai niat dan upaya kami selama ini.

    Meski demikian, seperti saya sampaikan di depan mereka saat buka puasa bersama itu, penghargaan tertinggi haruslah disematkan kepada para korban yang telah begitu tabah menghadapi cobaan yang berat selama ini. Juga, kepada berbagai pihak yang tanpa kenal lelah bekerja keras di lapangan: tim Minarak, tokoh-tokoh masyarakat, Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), seluruh instansi pemerintah daerah (dari provinsi sampai kabupaten), dan berbagai macam pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu di sini.

    Musibah masih belum sepenuhnya lewat. Lumpur masih terus mengalir, mengakibatkan dampak yang begitu besar. Tapi saya yakin, dengan niat yang bersih, semangat kebersamaan, dan persaudaraan di antara kita semua, Insya Allah, kita akan bisa menghadapi segala tantangan di hadapan kita ini.

17 Responses to “Silaturahmi dengan Warga Korban Lumpur Sidoarjo”

  1. tia says:

    Assalamualikum wr.wb

    Pa Anin,saya cuma mau mengatakan bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak bisa dilalui umatNya.
    Kita harus yakin bahwa dibalik musibah ini pasti banyak hikmah yang terkandung,mungkin terdengar klise,tapi dengan berpegang dengan keyakinan ini,saya yakin seberat apapun cobaan, Allah akan selalu memberi jalan pada kita semua.
    Semoga semua yang telah Pa Anin lakukan merupakan amal ibadah bagi Pa Anin dan keluarga.

    Wassalamuaikum

  2. bunda says:

    asswrwb,
    semoga semua upaya yang dilakukan Pak Anin dapat dirasakan positif oleh mereka yang secara langsung merasakan dampak lumpur Lapindo. segala usaha memang tak mungkin disetujui dan disukai oleh semua orang..namun paling tidak dengan upasa yang dilakukan pastilah ada imbalan yang layak dariNya… percayalah Pak… Allh tidak tidur dan Maha Menyaksikan apa yang bapak upayakan.
    wasswrwb

  3. Abu Fatih says:

    Saya sempat lihat-lihat ke dalam perumahan Kahuripan Nirwana Village. Ternyata perumahannya bagus juga.. saya jadi naksir beli rumah di situ. Apa orang-orang yang non korban seperti saya bisa dapat korting untuk beli rumah disitu, Mas Anin? 😀

  4. […] Bakrie bicara tentang korban lumpur Lapindo di blognya — dia menyebutnya “lumpur Sidoarjo“. Silakan Anda […]

  5. sarwono says:

    Asslmkm.
    Mas Anin, sy keraskan suara TV-One ketika mas lagi pidato dalam acara buka bersama dgn korban bencana lumpur Sdrjo. Saya ikut terharu. Semoga yg apa Mas Anin dan keluarga besar Bakrie infakan ikhlas karena Allah. Amiin
    Saya ingin mengetahui lebih lanjut keluarga besar Mas Anin. Bisakah ?
    Wasslmkm.

  6. Dear Mas Anindya,

    Saya cukup gembira karena semua yang terjadi di Porong Sidoharjo lambat laun dapat terselesaikan meski masih ada beberapa yang belum terpenuhi atau kurang puas. Saya tahu ini ujian yang berat bagi kita semua (Keluarga Bakrie, Bakrie Group, Korban Bencana dan Seluruh Masyarakat Indonesia).

    Mudah-mudahan masalah ini dapat menjadi hikmah bagi kita untuk bersilaturahmi lebih dekat. Saya yakin segala solusi yang Mas Anin berikan bukanlah untuk mencari popularitas dan publisitas diri, tapi didasari dengan perhitungan yang matang sebagai orang bisnis dan keikhlasan untuk kebaikan sesama manusia.

    Salam

  7. kenyo says:

    selamat ngeblog pak anin….semoga sukses….

  8. […] Dengan rasa masih marah logika saya berpikir: “Mau diganti berapapun uang sebenarnya tidak bisa mengganti pedih kucuran darah akibat luka yang sudah menggores tubuh saya. Tidak bisa mengembalikan sakitnya […]

  9. Semoga keadilan ditegakkan bagi para korban Lumpur Lapindo.

  10. Zidni says:

    Semoga niat baik keluarga dapat memperlancar rizki perusahaan.
    Siapa yang menanam budi akan menuai pertolongan kelak

  11. Kartim says:

    Assalamu Alaikum,

    Jujur saya sampai menitikan air mata membaca tulisan ini.

    Insya Alloh, Alloh akan mengganti semua upadaya keluarga Bapak baik biaya, pikiran maupun tenaga dengan lebih banyak dan lebih barokah. amiin.

    Yang penting ikhlas. Semua dari Alloh, kita kembalikan kepada Alloh SWT.

    wasalam

  12. Canon says:

    salut untuk keluarga Bakrie yang sudah berbesar hati untuk membantu para korban lumpur sidoarjo. semoga dengan musibah ini bangsa kita mendapatkan hikmahnya.

  13. Tulisan ini buat saya terharu, memang selama ini saya juga beranggapan negatif karena dengan banyaknya media yang simpang-siur dan membingungkan, dengan tulisan ini dapat menyejukan pikiran negatif saya. Salam

  14. bangaip says:

    Saya memberanikan dan mendukung Pak Anin untuk menyediakan halaman khusus untuk saudara-saudara kita yang berminat mengetahui perkembangan issue ini.

    Adalah amat baik dan luhur jika ada proses diskusi yang dilakukan secara transparan dan detil. Sehingga seluruh WNI yang ingin mengetahui perkembangan lebih lanjut soal Lumpur Lapindo dapat dibahas di halaman tersebut.

    Saya yakin, proses ini tidak hanya berakibat amat baik bagi upaya agar “pihak keluarga berusaha sebaik mungkin menolong mereka yang terkena dan berhak mendapatkan bantuan” namun juga berguna bagi seluruh WNI yang peduli dan berusaha mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menggantung selama lebih dari beberapa tahun belakangan ini.

    Saya turut berdoa agar semoga niat baik dan keberanian kita untuk meluruskan sesuatu mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.

    Terimakasih

  15. dsusetyo says:

    Bulan Ramadhan memang saat paling baik untuk berbuat amal shalih.

    Tidak ada manusia yang sempurna dan tidak pernah berbuat salah. Manusia yang terbaik adalah yang dia belajar dari kesalahannya lalu memperbaikinya.

    Apa yang terjadi di Sidoarjo, memang agak beda, karena menyangkut hajat hidup orang sangat buanyak. Tanggung jawabnya sangat berat. Kalau salah dengan Allah, bisa cukup dengan tobat dan mohon ampun, tapi kalau dengan sesama manusia, dan jumlahnya begitu banyak, memang tidak mudah, tapi bisa.

    Semua bergantung dari kesungguhan dan keikhlasan hati bung Anin dan keluarga dalam menyikapi hal ini. Saya yaqin, kalau kita bersungguh2, dan memohon pertolongan Allah, Allah pasti akan beri jalan keluar terbaik. Ini masalah hati, hanya pemilik hati dan Allah yang tahu.

    Saya berdoa semoga Allah berikan jalan keluar terbaik untuk semua. Amin.

  16. busur says:

    Setiap tindakan yang menyebabkan penderitaan setiap detik, jam, hari terhadap umat manusia lain, pasti akan dihisab oleh ALLAH SWT. Pertanyakan pada hati nuranimu, apakah Lumpur Lapindo itu kelalaian pegawaimu, perusahaanmu atau memang bencana. Hanya engkau dan keluargamu yang tahu pasti. Tolonglah keluarga-bayi-balita-jompo di Porong, kalaulah itu salah keluargamu maka itu akan menjadi penghapus/kaffarat dosa dan jika bukan salah keluargamu, itu akan menjadi sedekah yang luar biasa. Siapa lagi yang menyelamatkan seorang Bapak, selain dari anaknya?

  17. (Mudah-mudahan ga di terbit-in postingannya)

    Hidup ini lebih indah dengan keberagaman. Bo ya coment yg di sortir jg mencerminkan keberagaman.

    Selamat, selamat berjiwa besar.

    Tapi aku ngerti ini bagian dari PR. silakahkan dilanjutkan. Semoga terangkan kan datang pada waktunya.

    mari nge-Blog!

Leave a Reply