SEARCH :
  • posted by Oct 31st, 2016

    Menyemangati atlet pelatnas di Bali

    Menyemangati atlet pelatnas di Bali

    Sabtu pagi itu, ribuan mata yang hadir dan miliaran mata yang menyaksikan melalui media, dibuat kaget oleh seorang anak muda. Di arena final renang 100m gaya kupu-kupu putra Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil, anak muda 21 tahun itu secara tak terduga mencatatkan sebuah sejarah.

    Anak muda ini adalah Joseph Schooling, yang pada Sabtu, 13 Agustus 2016 silam berhasil menjadi juara dan mencatatkan diri sebagai atlit pertama Singapura yang meraih medali emas di Olimpiade. Emas itu, juga menjadi emas pertama bagi Singapura.  Dia juga memecahkan rekor Olimpiade di nomor tersebut dan mencatatkan rekor baru dengan 50,39 detik.

    Yang lebih mengagetkan lagi, apa yang diraih oleh Schooling itu didapat dengan mengalahkan raja renang dunia dari Amerika serikat, Michael Phelps. Phelps sendiri adalah atlet Olimpiade terbesar sepanjang masa, yang sudah mengantongi lebih dari 28 medali, mendominasi dan memecahkan banyak rekor di olahraga renang.

    Siapa sangka anak yang 2008 lalu berfoto dengan Phelps sebagai penggemar, delapan tahun kemudian hadir sebagai rival dan mengalahkan idolanya tersebut. Tak ayal, kisah Schooling ini pun menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama mereka yang menekuni olahraga renang.

    Tentu apa yang diraih Schooling ini bukan tiba-tiba. Dia sendiri menyebut perjuangannya sampai dengan pencapaian adalah perjuangan yang berat dan “berdarah-darah”.

    Saya sendiri menyaksikan perjuangan seperti itu. Saya menyaksikan bagaimana anak-anak yang ingin menjadi atlit renang berlatih. Kebetulan anak saya juga perenang. Sungguh sebuah perjuangan bagi orang tua yang membangunkan anaknya jam 4 pagi dan tiba di kolam renang 4.30, lalu berlatih keras. Rutinitas ini terus dilakukan selama hampir setiap hari.

    Mengapa anak-anak ini pagi-pagi sudah berlatih keras, sementara mungkin anak sebaya mereka masih terlelap tidur? Karena mereka memiliki asa, memiliki cita-cita untuk menjadi atlit renang yang berprestasi.

    Itulah yang terbayang di benak saya saat saya ditawari menjadi ketua umum Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PB PRSI). Sebuah organisasi yang membawahi olahraga renang dan olahraga akuatik lainnya yaitu: lompat indah, polo air, renang indah, dan renang perairan terbuka.

    Bersama Sandiaga Uno di Munas PRSI 2016

    Bersama Sandiaga Uno di Munas PRSI 2016

    Meski banyak teman yang meminta dan mendorong, termasuk Ketua Umum PB PRSI saat itu yaitu sahabat saya Sandiaga Uno, saya tidak langsung menyanggupi. Karena selain saya sudah memiliki kesibukan kerja yang luar biasa, baik di bisnis maupun di organisasi seperti Kadin Indonesia.

    Apalagi, mengurus PRSI menurut hemat saya juga bukan perkara yang mudah. Mengingat cabang renang dan akuatik ini bukan gudang medali dan banyak “pekerjaan rumah” yang harus diselesaikan. Namun perjuangan orang tua dan anaknya yang berlatih setiap pagi itu selalu terpikirkan di benak saya, dan demi mereka, saya kemudian memutuskan untuk menerima tawaran maju sebagai ketua umum PRSI di detik-detik akhir pendaftaran.

    Singkat cerita, Musyawarah Nasional Pengurus PB PRSI 2016, digelar dan pada Sabtu (1/10/2016) malam, dan saya terpilih sebagai ketua umum untuk periode 2016-2020. Saya menggantikan Sandiaga Uno yang jabatannya sebenarnya baru akan berakhir 2017 mendatang, namun karena ada beberapa pertimbangan, salah satunya kesibukan Sandi yang akan maju di Pilkada DKI, maka Munas dimajukan. Selain saya, ada calon yakni Pak Syamsurizal yang merupakan Ketua PRSI Provinsi Riau. Namun kemudian beliau mundur karena menilai dirinya dan saya memiliki visi dan misi yang sama, juga untuk regenerasi.

    Lalu apa yang saya akan lakukan setelah memimpin PRSI?

    Saya realistis saja. Saya tidak akan menawarkan yang muluk-muluk. Saya hanya menawarkan untuk bersama memajukan olahraga renang dan akuatik Indonesia. Caranya dengan fokus pada tiga hal yaitu:

    Pertama, fokus pada atlit. Fokus dan upaya terbesar yang akan saya lakukan ke depan adalah kepada atlit. Kita akan fokus pada prestasi, kesejahteraan, dan pendidikan atlet. Untuk berprestasi, kesejahteraan atlit juga penting dipikirkan.

    Selain itu, kita juga harus bisa menyelaraskan performa atlet dengan prestasi dan pendidikannya yang lebih baik. Selama ini banyak atlet yang masuk ke perguruan tinggi justru dihadapkan dengan pilihann tetap berprestasi di olahraga atau pendidikannya. Dengan pengaturan yang baik, kita akan mendapatkan atlit yang sejahtera, berpendidikan, dan diharapkan akan meningkatkan prestasinya.

    Kedua, adalah kaderisasi. Dalam dunia olahraga, termasuk renang dan olahraga akuatik lainnya, kaderisasi merupakan hal yang penting. Olahraga yang berprestasi baik, bisa dipastikan memiliki sistem kaderisasi yang baik pula.

    Yang ketiga, adalah pembenahan organisasi. Karena saya ingin fokus di atlit, maka saya membagi 80 persen untuk atlit dan 20 persen untuk membangun organisasi yang yang efektif, efisien, dan akuntabel. Sebuah organisasi yang ramping namun tetap efektif dan kuat.

    Masukan dari para pengurus daerah juga harus lebih diperhatikan, mengingat mereka adalah ujung tombak pembinaan atlet. Juga perhatian pada klub-klub renang dan olahraga akuatik lainnya. Selain itu, kerjasama dengan pemerintah dan para stakeholder olah raga Indonesia, seperti KOI, KONI dan lain-lain juga akan terus dijaga dan ditingkatkan. Mengingat ke depan akan ada tantangan di SEA Games 2017, Asian Games 2018, dan Olimpiade 2020.

    Bersama para pengurus Singapore Swimming Association

    Bersama para pengurus Singapore Swimming Association

    Tiga hal tersebut yang ke depan akan saya tingkatkan. Sebab saya ingin atlit di cabang ini lebih berprestasi dan bukan hanya menjadi atlit kelas dua. Sangat disayangkan jika pengorbanan orang tua dan atlit sejak anak-anak hanya berakhir sebagai atlet kelas dua di level internasional.

    Saya sadar sepenuhnya, bahwa semua ini memang tidak cukup dilakukan dalam waktu empat tahun kepemimpinan saya. Namun saya ingin membangun pondasi dan memberikan asa untuk renang Indonesia, memberikan pondasi untuk olahraga akuatik negeri ini.

    Asa lah yang membuat Joseph Schooling bertekad menyamai idolanya dan akhirnya mengalahkannya. Selain itu pondasi yang bagus juga membantu dia meraih asanya. Sebagaimana dikatakan oleh Ketua Komite Olimpiade Nasional Singapura Tan Chuan-Jin: “Lingkungan juga mempunyai peran yang penting karena tidak ada atlet yang berhasil tanpanya. Tetapi, di poin ini kerja secara cerdas juga diperlukan bukan hanya kerja keras saja,”.

    Semoga apa yang akan saya upayakan bersama-sama dengan para pengurus PB PRSI ke depan biasa memberikan sumbangan besar bagi kemajuan dan prestasi atlit olahraga akuatik Indonesia. Mohon doa dan dukungannya.

5 Responses to “Asa untuk Renang Indonesia”

  1. Dina Aliandari says:

    Semoga niat tulus Pak Anindya bisa berbuah prestasi atlet-atlet renang kita di kancah nasional maupun internasional.

  2. Indah Kelana says:

    Satu lagi bakti keluarga Bakrie pada olahraga Indonesia. Terima kasih mas. Lanjutkan!

  3. Wawan Setiyawan says:

    Sudah lama renang kita mati suri. Saatnya bangkit lagi. Insyaallah di tangan Pak Anin bisa berprestasi lagi. Saya dukung pak

  4. Reswanda says:

    Allahuakbar, tkah keswdiaannya pak Ketum kami atas nama pribadi dan utamanaya PRSI Jatim dan seluruh insan aquatic Jatim dan sekuruh Indonesia siap sllu mendukung… di Air Kita Jaya dan tdk ada sesuatubyg mustahil jika kita berusaha dan dikwnwdaki Allah SWT, salam olah raga.

  5. Aria Yuda says:

    Semoga terwujud pak anin.. kami mendukung saja. Semoga bisa menghasilkan prestasi.

Leave a Reply