SEARCH :
  • posted by Feb 22nd, 2016

    leonardoSalah satu film yang sedang diputar di bioskop Indonesia dan masih menjadi perbincangan hangat adalah film “The Revenant”. Film ini menceritakan perjuangan Hugh Glass memulihkan kondisi fisiknya pasca diserang beruang, dan perjuangan bertahan hidup melawan ganasnya hutan belantara Amerika, untuk pulang dan membalas dendam atas kematian anaknya.

    Film ini dipuji karena sinematografinya yang bagus. Seting lokasi yang menunjukkan indahnya hutan dan alam Amerika, juga banyak dipuji. Tapi di sini saya tidak hendak membahas lebih dalam soal film tersebut, tapi saya ingin bercerita tentang pemeran utamanya: Leonardo DiCaprio.

    Bulan lalu, saya kembali menghadiri acara tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Di WEF tahun ini, Leonardo hadir dan mendapat penghargaan “Chrystal Award” untuk kepedulian dan kerja kerasnya dalam menjaga lingkungan. WEF yang dihadiri oleh pelaku bisnis, cendekiawan, politikus, dan pemimpin masyarakat ini memang tidak hanya membicarakan ekonomi saja, tetapi juga masalah lain termasuk lingkungan.

    Di acara itu, pemeran utama film “Titanic” ini juga membicarakan mengenai Indonesia. Leonardo menyinggung tentang kebakaran hutan dan lahan di Indonesia beberapa waktu lalu.  Menurut dia, sepanjang 2015, kebakaran besar di Sumatra telah menghasilkan lebih banyak emisi karbon setiap harinya dibandingkan dengan emisi karbon yang dihasilkan oleh aktivitas perekonomian Amerika Serikat.

    Leonardo dalam pidatonya juga sempat menyentil perusahaan atau industri energi yang banyak melakukan kerusakan lingkungan.  Menurut dia, kita tidak bisa membiarkan keserakahan perusahaan batubara, minyak dan gas untuk menentukan masa depan kemanusiaan.

    Namun Leonardo tidak hanya bicara saja, melalui yayasannya: Leonardo DiCaprio Foundation, dia menyumbangkan dana USD 15 juta untuk pelestarian lingkungan, termasuk untuk melindungi hutan Sumatra dari kerusakan yang disebabkan industri minyak kelapa sawit. Sebelumnya, Leonardo juga sempat diberitakan menyumbangkan dana sebanyak USD 25 juta untuk kampanye menyelamatkan satwa liar dan habitatnya di seluruh dunia.

    Bintang Hollywood ini mau membantu Indonesia karena dia merasa bahwa hutan Indonesia adalah “paru-paru dunia”. Karena itu, warga dunia juga harus peduli untuk menjaga “paru-paru” ini.

    Dia berharap dana yang disumbangkannya bisa membantu mempertahankan 6,5 juta hektar hutan Sumatra dari gerusan kebun kelapa sawit. Sebab Indonesia adalah negara yang tercatat sebagai negara yang paling banyak memproduksi kelapa sawit, yang dalam pembukaan lahan dilakukan dengan cara membakar, yang kemudian menyebabkan kebakaran hutan dan kabut asap.

    Tidak hanya membantu, Leonardo sendiri ternyata juga tertarik untuk datang ke Indonesia. Selain untuk melihat hutan Sumatra, dia juga ingin melihat keanekaragaman hayati di Indonesia. Rencana Leonardo itu diungkapkan saat dia bertemu dengan Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin di acara KTT Perubahan Iklim, di Paris, Prancis akhir tahun 2015 silam.

    Keanekaragaman hayati di Indonesia memang termasuk yang terbesar di dunia. Karena diperkirakan ada sekitar 25 ribu jenis tumbuhan di negeri ini yang mewakili 10 persen flora dunia. Itu belum termasuk ganggang dan lumut dan yang jumlahnya sekitar 35 ribu jenis, yang 40 persen di antaranya hanya ada di Indonesia.

    Sementara untuk hewannya, ada sekitar 220 ribu jenis. Ada sekitar 200 ribu serangga, yang merupakan 17 persen serangga dunia. Untuk ikan, ada sekitar 4000 jenis, reptil dan amphibi ada sekitar 1000 jenis, dan burung ada sekitar 2000 jenis. Dari fakta ini, wajar saja jika Leonardo tertarik dengan keanekaragaman hayati Indonesia.

    Lalu mengapa saya bercerita mengenai Leonardo DiCaprio?

    Karena bagi saya apa yang dilakukan Leonardo ini penting. Ini menyadarkan kita bahwa kepedulian terhadap lingkungan itu penting. Selain itu jika dia sebagai orang asing saja peduli terhadap negara ini, maka kita sebagai tuan rumah harusnya tidak kalah peduli, bukan malah menambah kerusakan.

    Namun terkait dengan kritik Leonardo terhadap industri energi yang ditudingnya merusak lingkungan, yang kemudian melahirkan banyak persepsi bahwa seolah dunia usaha dan lingkungan itu dua isu yang berlawanan, saya punya pandangan berbeda. Bagi saya, kepentingan bisnis dan kelestarian lingkungan bisa sejalan. Kita bisa menciptakan bisnis yang pro terhadap kelestarian lingkungan tetapi tetap menguntungkan secara ekonomi.

    Dahulu saat masih memimpin Bakrie Telecom, kami pernah meluncurkan program “Hijau untuk Negeri”. Ternyata program ini setelah dijalankan, bisa melakukan penghematan sumberdaya, bisa mencegah kerusakan lingkungan, bisa memperbaiki brand perusahaan, serta menginspirasi perusahaan yang lain. (selengkapnya tentang ini bisa dibaca di tulisan saya sebelumnya)

    Kembali ke Leonardo, apa yang dilakukannya tetap harus diapresiasi dan diteladani. Bagi anda yang suka atau ngefans Leonardo, jangan cuma suka nonton filmnya saja, tetapi teladani kedermawanannya dan kepeduliannya pada lingkungan.

    Kepedulian terhadap lingkungan itu penting. Karena kelestarian lingkungan adalah prasyarat untuk keberlangsungan kehidupan. Karena dunia ini sebenernya bukanlah warisan dari nenek moyang kita, melainkan sekadar titipan dari anak cucu kita.

One Response to “Davos, Leonardo DiCaprio, dan Indonesia”

  1. Bagus artikelnya.. padat dan berisi, semoga selau sehat, rejekinya tambah banyak dan sehat selalu.. salam sukses buat teman-teman semua..amiin

Leave a Reply to pabrik sepatu safety di tangerang