-
posted by Anindya Mar 10th, 2011
Bertemu dan berdiskusi dengan para pengusaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), merupakan saat-saat yang selalu membahagiakan dan mengesankan buat saya. Banyak gagasan baru dan inspirasi yang saya peroleh dari mereka. Terkadang fakta yang saya dapatkan sungguh mengejutkan. Sejumlah pengusaha yang tadinya disebut sebagai UMKM berhasil membuat lompatan besar. Kalau melihat skalanya, mereka tidak lagi bisa disebut sebagai pengusaha kecil, apalagi mikro. Beberapa diantaranya bahkan sudah berhasil meraih sukses di usia muda.
Selasa, 8 Maret 2011, sebagai Presiden Komisaris PT Bakrie Connectivity saya menghadiri peluncuran produk AHA Office in a Box. Ini merupakan sebuah produk baru dari Bconnect bekerjasama dengan mesin pencari terbesar di dunia Google, yang diperuntukkan bagi kalangan pengusaha UMKM. Dengan menggunakan produk ini diharapkan para pengusaha UMKM mulai dapat memanfaatkan teknologi informasi (TI) dan pada gilirannya dapat membantu mereka memperluas pasar mereka ke berbagai belahan dunia, dengan biaya promosi yang relatif sangat murah.
Dengan menggunakan AHA (Affordable hyper-speed Access) Office in a Box para pengusaha UMKM dapat membuat web dengan domain sendiri tanpa perlu memusingkan hostingnya. Semuanya diurus oleh Bconnect. Mereka juga dapat memiliki mail box tersendiri yang tidak generik, storage untuk penyimpanan data. Dan yang lebih penting keamanannya dijamin, karena menggunakan sistem Google Postini yang tak perlu diragukan kehandalannya. Continue Reading »
Posted in 1 | No Comments »
-
posted by Anindya Mar 8th, 2011
foto:AP Photo
As the rest of the world watches with amazement, and some trepidation, at the unsuspected revolution unfolding in the Middle East, Indonesians can be forgiven for treating events there with a measure of déjà vu. Relax, they say: We have been there, done that. Indeed, it is the Middle East in turmoil which perhaps should look at Indonesia as a model for how to democratise with Muslim characteristics.
What unites the Iranian revolution of 1979, the revolutions in Eastern Europe in 1989, the overthrow of the Suharto regime roughly a decade later, and the jasmine revolution today is their objective: the ditching of autocracies that have passed their sell-by date. These revolutions represent a massive clearing of historical shelves.
It does not matter what kind of product has gone stale: pompous monarchies; vanished socialisms; murderous juntas; civilian despotisms; or the creeping dotage of corrupt, inefficient and unaccountable regimes. It does not matter whether the revolution is sparked by the silent presence of a Berlin Wall, the resounding collapse of a national economy, or the screaming self-immolation of a street-hawker who becomes the contorted face of a whole country, a whole region and a whole indicted era. Continue Reading »
Posted in English | No Comments »
-
posted by Anindya Feb 28th, 2011
Sabtu siang (26 Februari), udara Jakarta basah karena hujan deras mengguyur. Saat itu saya baru saja mendarat seusai melakukan perjalanan dari Mamuju, Sulawesi Barat. Walaupun cukup lelah setelah melakukan perjalanan jauh sejak Jumat pagi, tapi berbagai gagasan seolah seperti berdesakan di kepala dan meminta untuk segera dituangkan dalam tulisan.
Saya pergi ke Mamuju itu untuk berbicara dalam seminar ekonomi dan kewirausahaan bersama Menkop dan UMKM Syarif Hasan, Sekretaris KEN Aviliani, Deputi Menko Perekonomian Edy Putra Irawady dan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Prof Budi Santoso. Saya juga melantik pengurus Kadinda provinsi Sulbar. Perjalanan saya ke Sulbar itu memberi saya kesempatan untuk langsung melihat potensi propinsi termuda ini.
Propinsi ini terbentuk sejak tahun 2004, sebagai pemekaran Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Tanah Mandar ini dikenal sebagai negeri para pelaut ulung sejak ratusan tahun lalu. Dengan perahu Sandeg-nya, mereka dikenal sebagai pelaut pemberani menantang ombak dan mengarungi laut lepas. Continue Reading »
Posted in 1 | No Comments »
-
posted by Anindya Feb 22nd, 2011
Hari Rabu, 16 Februari 2011 lalu, saya diundang oleh Universitas Trisakti untuk memberikan kuliah umum. Acara ini digagas oleh Lembaga Kepresidenan Masyarakat Mahasiswa (Kepresma MM) Universitas Trisakti. Di sana saya memberikan kuliah umum mengenai “2011 Indonesia Economic Outlook: Opportunities & Challenges”.
Menyampaikan gagasan dengan memberikan kuliah umum di kampus seperti ini bukan yang pertama. Sebelumnya saya memberikan kualiah di Kampus Prasetya Mulia. Tapi, tetap saja pengalaman menjadi dosen dadakan memberi kesan tersendiri. Apalagi pada acara itu banyak mahasiswa yang hadir.
Selain dipenuhi mahasiswa Trisakti, di Auditorium Gedung D Trisakti yang jadi tempat kuliah, juga tampak mahasiswa Universitas Bakrie. Saya sengaja mengajak mereka agar bisa ikut mendengar kuliah saya. Agak aneh memang, saya sendiri sebagai Pelindung Universitas Bakrie, justru belum pernah memberikan kuliah umum di sana. Tapi dengan mengajak mahasiswanya ke Trisakti ya sama saja. Continue Reading »
Posted in 1 | No Comments »
-
posted by Anindya Feb 20th, 2011
Pertengahan bulan Januari lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan kunjungan kenegaraan ke India. Saya beruntung bisa ikut dalam rombongan presiden itu. Kunjungan kenegaraan ke India pada tanggal 24 sampai 26 Januari 2011 ini dalam rangka memenuhi undangan Presiden India untuk bertindak sebagai Tamu Utama (Chief Guest) dalam acara Hari Republik (Republic Day) India, 26 Januari 2011.
Sekedar diketahui, di India ada dua hari nasional, yaitu Hari Kemerdekaan dan Hari Republik. Hari kemerdekaan berkaitan dengan momen bangsa India meraih kemerdekaan dari Inggris pada 1947, namun kepala negara masih dipegang oleh Ratu Inggris. Sedangkan Hari Republik untuk memperingati momen di tahun 1950, di mana India mengesahkan konstitusi baru dan India pun menjadi republik. Mulai saat itu pemimpin negara secara sepenuhnya dipegang oleh warga India.
Diundangnya Presiden RI menjadi tamu utama merupakan pengulangan sejarah. Sebab, pada perayaan Hari Republik yang pertama kali di tahun 1950, Presiden Pertama RI Soekarno juga hadir. Di era 50 dan 60-an, Indonesia yang dipimpin Soekarno dan India yang dipimpin Nehru, memang punya hubungan yang sangat erat. Kedua negara saling mendukung dalam perjuangan kemerdekaan masing-masing. Continue Reading »
Posted in 1 | No Comments »
INSTAGRAM
TWITTER
FACEBOOK
-